Hikayat Watu Gatheng

Hikayat watu gatheng ini adalah dongeng yang diceritakan turun-temurun pada anak-anak di Yogyakarta.

Sumber foto: yogyatrip.com

Jika teman-teman jalan-jalan ke Kraton Mataram lama di Kotagede, petilasan watu gatheng ini bisa ditemui dibawah pohon beringin ditengah Jalan Watu Gilang. Jangan lupa didekat sana ada penjual mie jowo yang enak. Tempat ini juga pernah menjadi lokasi reality horor sebuah stasiun TV.
Panembahan Senopati (Raja Pertama Mataram) itu dulunya punya seorang anak. Konon anak tersebut adalah Panembahan Senopati dengan Ratu Pantai Selatan. Namanya Raden Rangga.
Anak tersebut sejak lahir sudah mempunyai kesaktian yang sangat tinggi. Tetapi perangainya tidak bagus, mudah marah dan cengkiling (suka memukul). Setiap kali marah dan memukul orang, yang dipukul pasti tewas.
Sewaktu kecil, Raden Rangga suka main gatheng (mainan dengan batu bulat). Ukuran gatheng-nya besar sekali, seukuran kepala orang dewasa. Watu gatheng yang masih tersimpan di Kotagede ada bekas jari-jari tangannya sebagai tanda kesaktian Raden Rangga. Watu gatheng tersebut tersimpan di selatan bekas Keraton Mataram.

Sifat Raden Rangga yang mudah marah dan memukul tersebut membuat Panembahan Senopati merasa prihatin. 

Beliau lalu menitipkan Raden Rangga untuk dididik penasehatnya, Ki Juru Martani. 
Sebelumnya, Panembahan Senopati ingin menguji kesaktian Raden Rangga dengan memanggilnya ke istana untuk memijit kaki beliau. Baru sebentar Raden Rangga memijit, Panembahan Senopati merasa kesakitan dan mengibaskan kakinya. Raden Rangga terlempar dan menabrak pagar benteng Keraton. Karena kesaktiannya, benteng yang tebal tersebut hancur.
Panembahan Senopati memerintahkan Raden Rangga untuk menemui Ki Juru Martani. Ketika sampai, Ki Juru Martani yang sedang sibuk memintanya menunggu di ruang tamu. Karena bosan menunggu, Raden Rangga mulai iseng melubangi gentong batu didekatnya menggunakan jari-jarinya. Gentong batu tersebut menjadi berlubang-lubang berkat kesaktiannya. Gentong batu tersebut masih tersimpan di sebelah watu gatheng sampai sekarang.
Akhirnya Ki Juru Martani keluar dan terkejut melihat Raden Rangga melubangi gentong batu tersebut. Beliau berkata, "Batu itu kan keras, Raden,"
Ki Juru Martani yang juga sakti mengubah batu tersebut menjadi lebih keras lagi dengan kata-katanya sehingga jari Raden Rangga terjepit.
Raden Rangga marah dan membalas dengan kata-kata sakti juga (kemanden), "Kelak anak keturunan Ki Juru akan cacat jari-jarinya."

Ki Juru Martani yang merasa kewalahan dengan tingkah laku Raden Rangga melaporkannya pada Panembahan Senopati. 

Panembahan Senopati membawa masalah tersebut ke pantai Selatan, menemui Ratu Kidul. Panembahan Senopati menyatakan tidak sanggup lagi mengasuh Raden Rangga dan meminta Ratu Kidul mengambilnya. Ratu Kidul menyanggupi, lalu melemparkan selendangnya yang berubah menjadi ular besar.
Sesampainya di istana, Panembahan Senopati memanggil Raden Rangga dan menugaskannya membunuh ular yang sedang membuat gadung istana. Raden Rangga bertarung melawan ular besar tersebut. Ketika ular tersebut membelit Raden Rangga, Ratu Kidul menarik kembali ular yang merupakan penjelmaan selendangnya itu.
Selendang tersebut ditarik bersamaan dengan Raden Rangga yang berada didalamnya. Akhirnya Raden Rangga pun berada dibawah pengasuhan Ratu Kidul, ibunya.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.