Sesorah, Pidato Berbahasa Jawa

Di jaman modern sekarang ini, masih banyak yang melakukan sesorah, pidato bahasa Jawa di acara-acara resmi maupun tak resmi.

Panata adicara Kraton Mangkunegaran Solo

Idul Adha lalu, ketika sholat Id didekat rumah, apa perasaan unik karena seluruh urutan acara disampaikan dalam bahasa Jawa. Kampung kami termasuk dekat dengan kota Jogja, meskipun sudah masuk wilayah kabupaten. Tanah sekitar kami sudah habis dijual untuk perumahan-perumahan kelas menengah keatas, yang berarti adalah orang-orang modern dan banyak juga yang tidak mengerti bahasa Jawa.
Meski demikian, jumlah mesjid tidak bertambah, entah karena pengembang yang tak mau rugi, atau muslim yang ada masih bisa ditampung di mesjid lama. Sekitar kami memang bercampur antara muslim, non muslim dan kejawen. Mesjid tersebut terletak di kampung, tidak dekat dengan kompleks manapun, sehingga pengurusnya sebagian besar merupakan orang asli daerah tersebut. Mau tak mau kami yang pendatang harus menyesuaikan diri dengan budaya setempat.
Sesorah atau pidato umumnya dibawakan oleh laki-laki, dengan pembawaan yang tenang, suara rendah dan sikap tubuh sempurna (tegak dengan tangan ditangkupkan didepan).
Sesorah tidak memiliki aturan baku, tapi umumnya menggunakan bahasa krama inggil. 

Sedangkan bagian-bagian dalam sesorah setidaknya adalah:


  1. Uluk salam
  2. Purwaka
  3. Isi
  4. Pengarep-arep
  5. Penutup
Orang Jawa senang menyebutkan semua orang penting satu persatu di uluk salam. Ini karena orang Jawa sangat menghormati mereka yang memiliki hierarki jabatan lebih tinggi dan hierarki usia yang lebih lanjut. Apabila disambung dengan purwaka (pendahuluan) maka dua bagian ini bisa memakan waktu yang agak lama dan banyak basa basi. Namun demikian, umumnya pihak yang disebutkan senang karena merasa "diuwongke."

Orang juga tak lupa menyampaikan harapan terhadap apapun tema yang dibawakan. 

Jika keadaannya tidak baik, diharapkan kedepannya lebih baik lagi. Jika keadaan baik-baik saja, diharapkan hal itu berlangsung seterusnya.
Memang penguasaan bahasa Jawa krama inggil sangat penting, tapi itu bisa dipersiapkan sebelumnya. Kalau takut lupa bisa membawa catatan. Yang penting jangan sampai kehilangan modal utama sesorah, yaitu ketenangan berbicara.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.