Cara Membawa Keris Naik Pesawat

Ternyata cara membawa keris naik pesawat itu cukup mudah.

Foto dipinjam dari https://www.flickr.com/photos/galerivideo/2680608789/sizes/o/. Matur nuwun.

Tadinya sempat bingung bagaimana cara membawa keris naik pesawat. Takut terkena masalah hukum alias ditahan Densus 88. Gencarnya operasi pencegahan terorisme membuat aturan tranportasi masa sangat ketat. Selain tidak sembarangan orang bisa masuk ke area penumpang, juga ada aturan nama tiket harus sama dengan dengan kartu identitas asli yang resmi.

Lalu, ngapain sih cari masalah bawa-bawa keris naik pesawat? Sama seperti manusia dari suku bangsa manapun yang makin mobile, orang Jawa tersebar keseluruh penjuru dunia. Adakalanya kita harus menghadiri acara pernikahan saudara di belahan dunia lain dan si pengantin sudah meminta dengan sangat untuk diselenggarakan dengan adat Jawa yang kental, lengkap dengan keris. 
Untuk keluarga tertentu, keris juga diwariskan. Salah satu ketentuan yang menyertai jatuhnya warisan tersebut biasanya tidak mengijinkan orang lain menyimpan keris tersebut kecuali penerima warisan yang bersangkutan. Adapula yang tidak mengijinkan penerima warisan untuk menjual keris tersebut karena nilai sejarahnya ataupun nilai nominalnya. Tak sedikit loh yang menghiasi keris dengan batu permata.

Beberapa hari lalu kami harus membawa keris pusaka naik pesawat. Setelah lama googling, tidak ada informasi yang memuaskan tentang hal itu. 

Akhirnya kami menelepon Garuda Indonesia call center untuk menanyakan cara membawa keris naik pesawat. (maskapai lain bisa berbeda aturan).

Rupanya mbak di seberang sana baru pertama kali menangangi kasus ini sehingga kami agak lama menunggunya mengecek SOP yang berlaku. Meskipun jarang meninggalkan rangkanya, keris tetaplah senjata tajam. Kita akan ditanyai seputar berat dan panjang keris tersebut. Mungkin kalau sepanjang tombak, aturannya beda ya. Lain kali kalau ada kesempatan naik pesawat bawa tombak, saya akan cerita. Ono-ono wae. Hahaaa.... Diluar dugaan, si mbak menjawab dengan enteng, 
"Boleh, silakan dibawa saja seperti biasa."

Aturan pertamanya adalah jangan coba-coba menyembunyikan keris ketika akan naik pesawat, meskipun tidak ada maksud jahat, meskipun semata-mata hanya tidak mau ribet.

Bandara telah menerapkan screening berlapis dari mulai pintu masuk keberangkatan hingga akan menaiki pesawat. Keris tersebut langsung ketahuan alat pendeteksi dipintu masuk keberangkatan oleh petugas. Tapi nggak perlu gemeteran atau keluar keringat dingin heheee.... Kita tetap diperbolehkan masuk area bandara dan diminta melaporkan keris tersebut di counter check in.
Di counter check in sama sekali tidak ada hambatan. Keris tersebut masuk dalam security items yang berarti benda-benda yang harus diamankan oleh petugas kabin selama perjalanan. Setelah menyerahkan keris tersebut, kita akan diberi tanda terima untuk mengambilnya di counter tersendiri di tempat tujuan, dekat dengan counter lost and found bagage claim.

Sebenarnya ada pilihan untuk memasukkannya dalam bagasi saja. Tapi kami tidak mau repot membongkar barang bawaan kami di bandara jika ternyata tidak diperbolehkan masuk bagasi. Lagipula, jika pun boleh, takut keris pusaka tersebut hilang karena nilai historiknya yang sangat berharga.

4 komentar:

  1. Wah ia ya mak, mending jujur aja daripada repot.hehehe

    BalasHapus
  2. Iya, bisa dikira teroris ntar :D

    BalasHapus
  3. Setuju Mak...terus teramg memang lebih aman ^_^

    BalasHapus
  4. wah malah baru kepikiran yang beginian mak. dunia sudah selebar daun kelor dilipat kok ya, jadi adat sini pun kadang harus nyebrang ke sana.

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.