Wahyu Keprabon

Kata wahyu dalam konteks agama diartikan sebagai petunjuk Tuhan yang berisi ajaran keutamaan hidup. Wahyu diberikan Tuhan kepada Nabi atau Rosul. Tetapi dalam budaya Jawa “wahyu” mempunyai makna yang agak berbeda. Untuk mengerti perbedaanya, berikut ini saya cuplikan sedikit cerita pewayangan.

Dalam cerita pewayangan banyak sekali lakon yang bertemakan turunnya “wahyu”, tetapi yang paling terkenal adalah dua lakon, yaitu “Wahyu Makutharama” dan “Wahyu Cakraningrat”. Wahyu Makutharama diturunkan oleh Dewa kepada Arjuna melalui seorang pendeta yang bernama Begawan Kesawasidi dari pertapaan Kutharunggu. Wahyu Makutharama berisi ajaran kepemimpinan (leadership) dari Prabu Rama raja di Pancawati. Ajaran itu berisi delapan petunjuk untuk menjadi pemimpin yang baik, dan lebih dikenal sebagai Hasthabrata (delapan keutamaan). Sedangkan wahyu cakraningrat diturunkan kepada Abimanyu putra Arjuna.  Secara visual wahyu Cakraningkrat berbentuk sinar yang meluncur seperti bintang beralih dari langit masuk ke dalam tubuh Abimanyu (jangan tanya kok nggak kebakar ya???, namanya juga dongeng). Baik Arjuna maupun Abimanyu tidak begitu saja mudahnya mendapat wahyu tersebut, melainkan dengan ujian yang berat dari Dewa, rayuan-rayuan bidadari cantik dari Kahyangan, tantangan yang berat dari kompetitornya (layaknya pilkada), dan seterusnya. Wahyu cakraningrat sebagai restu Dewa bahwa kelak putra Abimanyu dengan Utari dari kerajaan Wiratha akan menjadi raja Hastina. Dan benar juga bahwa setelah perang Baratayuda berakhir Utari melahirkan seorang putra yang diberi nama Parikesit. Tetapi Abimanyu sudah gugur dalam perang Baratayuda.

Setelah lahir, Parikesit menangis terus-menerus tak bisa dihentikan. Para kakek dan neneknya seperti Puntadewa, Bima, Janaka, Prabu Kresna, Prabu Baladewa sudah berusaha dengan segala cara agar Parikesit berhenti menangis, namun usaha itu gagal semua. Semua kakek dan neneknya bingung dan sedih. Bingung karena semua usaha gagal. Sedih mengingat ayahnya Parikesit sudah tidak ada lagi. Saking buntunya, lalu Prabu Puntadewa bersabda;

“Wahai Parikesit cucuku, jika kamu mau berhenti menangis, engkau akan saya jadikan raja di Hastina.” Keajaiban dunia, seketika itu Parikesit berhenti menangis.

“Adinda Prabu Puntadewa, saya jadi saksi sabda adinda.” ujar prabu Kresna.

“Begitu juga saya adinda, saya juga jadi sasksi sabda adinda, semoga para Dewa merestui” ujar prabu Baladewa.

Sepenggal kisah pewayangan itu rupanya mengilhami para raja-raja Jawa jaman dulu, dan diadopsi menjadi simbol-simbol politik untuk melegitimasi kekuasaan monarki. Setiap raja yang bertahta di Jawa selalu diikuti dengan mitos tentang wahyu atau pulung yang mengisyaratkan bahwa tahtanya telah direstui oleh Tuhan. Dengan begitu tak diharapkan adanya oposisi dari pihak mana pun.

Wahyu keprabon dipercaya sebagai restu dari Tuhan untuk menjadi raja. Mitos tentang wahyu terbawa ke zaman kemerdekaan hingga sekarang. Pada zaman Orde baru, mantan presiden Soeharto dalam wawancara dengan radio Belanda, secara jujur mengakui bahwa yang mendapat wahyu adalah ibu Tien Soeharto. Begitu Ibu Tien mendahului meninggal, ia sadar sepenuhnya bahwa tak lama lagi ia akan turun. Dan benar juga, tak lama kemudian presiden Soeharto turun dari tahta kepresidenan.

Dalam bahasa Jawa wahyu sering dikatakan “pulung”, yang secara visual bentuknya seperti bintang beralih (lintang alihan) dengan mengadopsi lakon wahyu cakraningrat. Seseorang yang mendapat wahyu atau pulung akan kejatuhan sinar yang meluncur seperti bintang beralih. Tak lama lagi ia akan menjadi pemimpin. Misalnya ketua RT, Lurah, Camat, Bupati, Walikota, Gubernur, Presiden atau Raja.

Jaman dulu, mitos wahyu dikaitkan dengan cerita monarki. Jaman sekarang era pemerintah monarki sudah surut drastis. Hanya tinggal beberapa yang masih berjalan seperti Arab Saudi dan Brunei. Memang ada negara yang mempertahankan keberadaan monarki tetapi hanya sebatas simbol-simbol kenegaraan. Seperti Jepang, Malaysia, Thailand, Inggris, Belanda, Spanyol, dan lain-lain. Itu sebabnya cerita wahyu atau pulung pun secara perlahan-lahan mulai surut dari kosa-kata bahasa kita.

Perjalanan waktu membawa kita ke era reformasi kehidupan, yang menuntut cara berpikir rasional. Menjadi pemimpin adalah puncak pencapaian sebuah perjuangan. Jika menjadi pemimpin adalah sesuatu yang diinginkan maka ia harus diperjuangan dengan cara-cara yang rasional. Tidak lagi bertapa di guwa-guwa, atau semedi di kuburan-kuburan, seperti yang dilakukan oleh Arjuna maupun Abimanyu dalam pewayangan. Perjuangan untuk menjadi pemimpin di zaman demokrasi harus mengikuti kaidah-kaidah kompetisi yang sehat, yang menawarkan kemampuan, kemauan dan kejujuran. Tidak menggunakan cara-cara yang tidak baik seperti menyuap, menipu, berbohong, anarki dan lain sebagainya.

Magelang, 10 Nopember 2011


Hormat kami pada pahlawan bangsa


Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.